Bahaya Membacakan Dongeng Sebelum Tidur untuk Anak-Anak Anda

Seringkali kita mendengar dan membaca bahaya penggunaan Gawai pada tumbuh-kembang anak-anak. Mulai dari obesitas akibat kurang bergerak, kesulitan konsentrasi akibat permainan yang bertempo cepat dan cahaya gawai yang merusak mata.

Tapi ini membacakan dongeng… apa sih jeleknya??
Betapa senangnya memiliki anak yang suka membaca, anak yang melahap semua buku cerita dengan rakus. Anak yang bersinar-sinar saat ayah atau bundanya membawa pulang buku bacaan baru. Anak saya belum menjadi golongan itu, karena ia masih 5.5 tahun dan belum bisa membaca.

Meski begitu, ia adalah golongan anak yang menangis menyayat hati saat emaknya merasa capek, tidak bersedia membacakan buku cerita favoritnya. Ia seperti kecanduan, mirip kecanduan gadget. Bedanya, ia kecanduan mendengar suara emaknya.

Saya adalah ibu yang bekerja, yang berangkat pagi pulang sore, kadang-kadang malam. Saya jelas tidak memiliki banyak waktu bersama si kecil. Lanjutkan membaca “Bahaya Membacakan Dongeng Sebelum Tidur untuk Anak-Anak Anda”

Mengapa perempuan sebaiknya belajar nyetir mobil pada selain pasangan

Artikel ini di muat di mojok.co, 7 Nopember 2017

Jangankan nyetir mobil, bawa motor aja perempuan a.k.a emak-emak seringkali dapet cibiran. Sampai keluar meme extrim “Ya Allah lindungilah hamba dari emak-emak yang sein kiri tapi beloknya ke kanan” yah perempuan memang seringkali menjadi domba hitam dari kesemrawutan dunia yang patriarkhi ini. Tapi berkat the power of emak-emak, we will survive.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Barbara dan Allan Pease, otak perempuan memang tidak didisain untuk beraktivitas diluar rumah. karena sejak zaman manusia berpindah-pindah di zaman batu, sebagian besar perempuan bertugas menjadi penjaga sarang dan properti keluarga. Sedangkan pria berburu dan mencari penghidupan. Pasangan penulis itu, menambahkan anjuran pada perempuan, agar jangan pernah minta belajar nyetir mobil pada lelaki anda, karena akan mengancam kehidupan percintaan anda, bahkan bisa mengakibatkan perceraian.

Awalnya saya tidak percaya pada hipotesa barbara dan allan, saya menganggap itu hanya terjadi di pengamatan mereka, negara setir kiri. Tetapi pada saat saya mengalaminya sendiri, Lanjutkan membaca “Mengapa perempuan sebaiknya belajar nyetir mobil pada selain pasangan”

Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…

Sumber www.digitalmarketer.id

Alkisah pada jaman “now” kehidupan ekonomi kelas menengah sedang booming. Penduduk usia produktif membludak, dan berdasarkan data BPS rata-rata kelas menengah ini sedang mengalami kejayaan finansial. Berkebalikan dengan fakta itu seringkali kita baca di rubrik ekonomi bisnis di berbagai media, terjadi penurunan moda konsumsi. Mall-mall pada tutup, gerai-gerai toserba modern bangkrut, sampai direksinya berani urunan untuk menutup kerugian perusahaan.

Fenomena ini dijawab oleh beberapa pengamat ekonomi dengan menuduh toko-toko online yang iklannya bertebaran di jagad medos kita. Isu mutakhir, ada analisis yang menyebutkan bahwa penurunan konsumsi di mall dan pasar modern karena kelas berduit  sedang berhemat, demi membayar sekolah anak-anak yang uang pangkal dan spp nya bisa dipakai bikin usaha percetakan.

Diluar itu semua, sebenarnya ada dua jenis makhluk lain yang turut berkontribusi atas kemunduran ekonomi ini. Pertama Emak Irit, kedua Pria Promo.  Lanjutkan membaca “Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…”

Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?

 

Sebagai orang tua “kekinian” saya tergolong orang tua yang membiarkan anak tercemar gawai sejak kecil. Pada usia 12 bulan sampai 24 bulan, saya membiarkan si kecil terpapar gadget sekitar 5-6 jam sehari. Untungnya ia tidak menjadi terlambat bicara akibat kurangnya stimulasi. Pada saat ia mulai bicara, saya menyadari bahwa kemampuan motorik halusnya begitu lemah. Saya lalu hanya bisa menyesal, saya melewatkan masa-masa dimana ia harusnya bergelut dengan benda yang menstimulasi motorik halus, seperti bermain pasir, memungut benda-benda kecil, kadang-kadang menghamburkan beras.

Pada waktu seharusnya bermain pasir dan berjalan diatas rumut, kerikil, dan mengenal berbagai jenis tekstur,  tangannya malah asyik menyentuh permukaan gawai yang lembut dan licin. Pada usia 36 bulan atau 3 tahun, saya menyadari bahwa pengaruh yang diakibatkan gawai itu bukan sekedar mengurangi kemampuan motorik halusnya. Anak saya tetiba berubah menjadi monster ketika ia tidak dapat menyentuh  gawai, atau pada saat gawai itu habis baterai. Ia seperti kecanduan layar handpone. Karena frustasi, saya dan suami terpaksa menyembunyikan dan menyampaikan bahwa benda itu rusak tidak dapat dipakai lagi.

mobile-phone-samsung-music-39592

Usia 4 tahun, ia mulai menanyakan pada kami, mengapa anak lain boleh bermain gawai tetapi ia tidak. Lanjutkan membaca “Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?”

Krupuk Upil dan Takdirnya

IMG20160807121332

 

Sebagian orang menamai kerupuk ini kerupuk Upil. Padahal bentuknya jauh lebih besar dari pada “upil” kerupuk ini digoreng bukan dengan minyak, melainkan pasir. Snack ringan ini warnanya bermacam-macam, meski begitu rasanya mirip-mirip.  Manis dan pedas adalah yang paling populer diantara rasa kerupuk Upil lainnya.  Bagi penggemar kerupuk, rasa ini amat “nagih”. Apalagi ada petis yang terbuat dari tepung telo yang rasanya manis manis pedas.

Satu jenis yang membuat jengkel adalah kerupuk upil versi “wahing” artinya kerupuk upil yang  kalau dimakan, krues krues… remah-remahnya yang mikro terhirup nafas dan menyebabkan bersin tidak ketulungan. Kerupuk ini dijual di pinggir jalan, toko “meracang” dan pusat oleh-oleh. Bungkus kecil seharga Rp.500,- sampai Rp. 2.000,-. Sementara plastik besar dijual seharga Rp.5.000,- sampai Rp. 12.000, eh ada juga ding yang menjualnya sampai Rp. 20.000,- meskipun habis bayar lalu bersungut-sungut.

Kerupuk “melarat” ini menjadi sangat populer di daerah Nganjuk, Kediri dan sekitarnya. Biasanya dinikmati bersama dengan “kulupan” pecel yang dibungkus daun Jati. Lanjutkan membaca “Krupuk Upil dan Takdirnya”