Indonesia Ngga Kalah Kok Sama Malaysia

Anak saya adalah penggemar berat sinetron upin-ipin. Ia menontonnya mulai bangun tidur, pulang sekolah, sampai mau tidur lagi. Habis energi saya pergi ke mall untuk beli dvd bajakan serial si kembar ini. Belum habis penderitaan dompet saya, pasca upin-ipin kenal lagi dia dengan boboboy. Begitu heroiknya boboboy dan kawan-kawannya ini. Sampai saya harus mengganti meja depan tivi, dari meja kaca menjadi meja kayu yang kuat digunakan untuk loncat-loncat mengikuti irama lagu rock “power sphera penyelamat bumi”.

Sebagai anak di usia “golden age” ia menyerap bahasa melayu ini dengan amat cepat. Setiap kali bertemu, bertegur sapa dengan kawan-kawannya ia menggunakan istilah dan logat melayu. Sampai-sampai bapaknya anak saya menyebut bahwa kebudayaan Indonesia kalah populer dari  Malaysia. Saya pikir, Oh mungkin ini hanya karena kebanyakan nonton Boboboy dan Upin Ipin. Selang seminggu kemudian, ada kawan yang menawari 4 keping  dvd original Upin-Ipin, beli di Malaysia. Sebagai emak-emak yang tiap minggu ditodong beli dvd, ini seperti dapat durian runtuh. Lalu saya tanyakan kepada si Embak (belum berpasangan apa lagi punya balita) yang nawarin ini, mbak untuk apa kok njenengan beli DVD ini? Ori lagi. Katanya untuk melakukan penelitian. Saya terperanjat dan mengejar lagi dengan pertanyaan baru. Apanya yang diteliti? “kebhinnekaannya dan budaya nya yang menarik”, oh oke Baiklaaaaah.

Sebenarnya menurut orang awam seperti saya, Indonesia dan Malaysia itu “Beti” Beda Tipis. Ada sebagian kota di perbatasan, yang cara ngomongnya sama melayu. Sejak jaman Amy Search dan Siti Nur Haliza ngetrend di Indonesia tak ada yang protes tentang perebutan haki dan budaya “Malay “ ini. Mereka yang menganggap Indonesia dan Malaysia bersaing dan berseteru itu, bagaikan orang pakai penutup mata meraba umbi empon-empon. Tidak jelas kalau hanya meraba. Harus dicium, mana yang jahe, mana kencur, mana kunci, mana laos.

Tapi karena saya nasionalis, saya harus menunjukkan kepada pengagum Malaysia, dan mereka yang mengalami degradasi kepercayaan pada merah putih bahwa kita lebih digdaya dari mereka. Selain itu, diatas segalanya, saya juga harus memberikan bukti kepada pasangan dan anak saya tentang kedigdayaan Indonesia. Sehingga mereka semakin yakin untuk bangga menjadi indonesia.

Data nya terpampang nyata di Counter Youtube. Saya membandingkan antara penonton Upin-Ipin Seri terbaru tahun 2017 yang hanya mencapai dua juta sekian.

Upin Ipin 2017

Bandingkan dengan lagu Besutan Virgoun Surat Cinta Untuk Starla, yang sekarang sudah ditonton ratusan juta kali.

SCUS

Dua fenomena diatas jelas bukan bandingan, serial Boboboy yang digandrugi oleh bocah jaman now pun masih jauh kalah rating viewers, video dalam capture berikut dibawah ini adalah yang terbanyak dibanding kartun malaysia lainnya direntang waktu yang sama dengan Virgoun.

Boboboy

Anda mungkin terkejut saat melihat penonton band Armada, yang mencapai 177 juta

Armada 1

Armada 2

Tolong lihat juga komen-komennya kalau iseng iseng penasaran sama lagu ini di Youtube. Rata-rata fansnya dari negeri Jiran. Kalau sudah begini, dalil apa lagi yang bisa menyangkal bahwa Indonesia tidak berjaya di Malaysia.

Saya tetap tidak habis pikir sama mereka yang merendahkan Indonesia dibawah Malaysia. Mungkin kita akan selalu bangga jika diingatkan bahwa guru-guru dan datuk Indonesia menabur Ilmu di Malaysia. Tetapi budayawan Malaysia pasti merana kalau tau betapa lagu Armada dan Virgoun amat meng ”influence” their society. Kalau mereka tau lagunya Armada berjudul “Buka Hatimu” mungkin liriknya mewakili ke “ngenesan” nya;

Betapa Sakitnyaaaa

Betapa Perihnyaaaa Hatiku

Oya, bagi penyuka musik pop rock dan jazz, hati-hati denger lagu-lagu Virgoun dan Armada, nanti wajah Anda yang sudah Rocker banged bisa tetiba mellow semellow mellownya

 

Love and Peace ^__^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *