Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…

Alkisah pada jaman “now” kehidupan ekonomi kelas menengah sedang booming. Penduduk usia produktif membludak, dan berdasarkan data BPS rata-rata kelas menengah ini sedang mengalami kejayaan finansial. Berkebalikan dengan fakta itu seringkali kita baca di rubrik ekonomi bisnis di berbagai media, terjadi penurunan moda konsumsi. Mall-mall pada tutup, gerai-gerai toserba modern bangkrut, sampai direksinya berani urunan untuk menutup kerugian perusahaan.

Fenomena ini dijawab oleh beberapa pengamat ekonomi dengan menuduh toko-toko online yang iklannya bertebaran di jagad medos kita. Isu mutakhir, ada analisis yang menyebutkan bahwa penurunan konsumsi di mall dan pasar modern karena kelas berduit  sedang berhemat, demi membayar sekolah anak-anak yang uang pangkal dan spp nya bisa dipakai bikin usaha percetakan.

Diluar itu semua, sebenarnya ada dua jenis makhluk lain yang turut berkontribusi atas kemunduran ekonomi ini. Pertama Emak Irit, kedua Pria Promo. 

Emak irit adalah emak-emak yang hobinya nge-Mall hanya untuk mencari diskon. Emak-emak yang mata, telinga, dan tangan mereka sudah disusupi oleh setan Zalitun (Setan yang tugasnya menggoda penghuni pasar, dan menipu, serta memuji-muji barang dagangan). Itulah sebabnya kalau perempuan masuk departemen store, yang dicari pertama adalah yang berlabel merah 70%, 50% atau beli satu gratis dua.

Secara logika, bagaimana mall bisa untung kalau yang dijual diskon semua? Kadang kadang kita juga harus istighfar, ketika di kasir. Sudah bayar dengan harga diskon, masih pula dapat potongan 50 ribu – 100 ribu untuk pembelian dengan nominal tertentu. Rencana mau pulang gagal, karena harus muter lagi cari barang yang bisa ditebus dengan kupon itu. Asem..

Demi menghindari kesalahan ini, emak-emak harus benar benar berhitung untuk menyalurkan hobi belanjanya. Pertama, cari mall yang syar’i. Pasar modern yang kira-kira syetannya sudah di portal di pintu masuk mall. Kedua, kalau belum ketemu pasar model itu, ber ta’awwudz lah sebelum masuk pasar. Mohonlah perlindungan dari syetan yang terkutuk. Ketiga bawalah uang cash, dan pas. Sehingga kalau belanja hanya cukup untuk beli satu barang diskon. Kalau perlu dompet dan segala kartunya dititipkan pada petugas parkir. Seandainya semua usaha itu belum membuahkan hasil maksimal, maka sedekahkan lah kupon potongan 50 ribu – 100 ribu hasil belanja tadi, pada pengunjung yang kira-kira mau cari diskonan juga. Fa Insya Allah bermanfaat.

Jenis manusia yang menyebabkan tutupnya mall dan pusat perbelanjaan lain adalah Pria Promo. Sedikit berbeda dengan emak irit, lelaki jenis ini sangat agresif dalam mencari promo-promo baik offline ataupun online. Ia rela bersepeda keliling Ind*mart dan Alf*mart terdekat untuk cek Promo JSM (Jumat, Sabtu, Minggu). Selain untuk kesehatan, bersepeda juga dapat menghindarkannya dari kejutan tukang parkir, yang pada saat kita datang ia hilang, kita pulang—ngga bayar, dia nantang.

Untuk membeli kebutuhan susu dan popok bayi, pria ini rela datang tiap hari untuk mengisi rekening pulsa, yang promonya isi 50 ribu dapat dua mie instan, dan kalau dibelanjakan lagi 50 ribu itu digerai sebelah, ia bisa dapet wafer yang berlapis ratusan.  Bisa Anda bayangkan, berapa mie instan dan wafer yang dia dapatkan setiap minggu kalau pria promo ini melakukannya setiap hari? Jangan tanya juga untuk urusan barang konsumsi lainnya, seperti baju, arloji, gesper. Pasti lelaki macam ini akan sangat aware terhadap gerai barang diskon, terutama di online shop.

Pria Promo yang hobinya liburan, baik yang jomblo atau yang sudah berkeluarga biasanya sudah punya strategi dan perencanaan yang matang. Setahun sebelumnya sudah pesan tiket liburan, dengan rate yang jauh dibawah rata-rata. Ia tidak takut kalau nanti tiketnya akan hangus. Bila pada hari H ada pekerjaan, ia bisa menawarkan tiketnya dengan harga sedikit dibawah harga yang ia dapat. Gimana caranyalah supaya tidak merugi. Meskipun kita semua sudah tahu, sesungguhnya semua manusia dalam keadaan merugi. Seandainya ada survey yang menemukan jumlah pasti berapa banyak Pria Promo, pastilah indikator kemunduran ekonomi negara ini akan bertambah.

kita memang tidak bisa serta merta menuduh bahwa Emak Irit dan Pria Promo ini adalah penjahat perekonomian jaman “now”. Hanya saja kedua jenis manusia ini terkadang sedikit lebay dalam mencari cara untuk hidup yang instagrammable dan layak posting. Tidak ada cara lain bagi negara ini dalam memutus efek berantai dari kelakuan emak irit dan pria promo selain mengharamkan diskon, dan melakukan sertifikasi halal bebas godaan syetan, terhadap gerai dan aplikasi yang mendorong konsumsi berlebihan akibat promo  #ups

nb. Ditulis karena mendekati akhir tahun… #Galau

20 Balasan untuk “Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…”

  1. Aku juga pecinta diskon dan malas ke mall kecuali kalo ada event. Zaman digital, jualan jg lebih efisien online. Jenis pekerjaan akan berganti dgn sendirinya. Tapi kalo belanja ke minimarket masih tiap hari.

Tinggalkan Balasan ke Anieq Fardah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *