Bahaya Membacakan Dongeng Sebelum Tidur untuk Anak-Anak Anda

Seringkali kita mendengar dan membaca bahaya penggunaan Gawai pada tumbuh-kembang anak-anak. Mulai dari obesitas akibat kurang bergerak, kesulitan konsentrasi akibat permainan yang bertempo cepat dan cahaya gawai yang merusak mata.

Tapi ini membacakan dongeng… apa sih jeleknya??
Betapa senangnya memiliki anak yang suka membaca, anak yang melahap semua buku cerita dengan rakus. Anak yang bersinar-sinar saat ayah atau bundanya membawa pulang buku bacaan baru. Anak saya belum menjadi golongan itu, karena ia masih 5.5 tahun dan belum bisa membaca.

Meski begitu, ia adalah golongan anak yang menangis menyayat hati saat emaknya merasa capek, tidak bersedia membacakan buku cerita favoritnya. Ia seperti kecanduan, mirip kecanduan gadget. Bedanya, ia kecanduan mendengar suara emaknya.

Saya adalah ibu yang bekerja, yang berangkat pagi pulang sore, kadang-kadang malam. Saya jelas tidak memiliki banyak waktu bersama si kecil. Satu-satunya yang saya istiqomahkan sejak ia kecil adalah membacakannya buku cerita. Bukunya tidak spesifik, tetapi jika dia sedang suka sama satu buku, maka buku itu yang ingin didengarnya setiap malam.

Kembali ke persoalan bahaya, sebenarnya ini adalah resiko yang harus dihadapi semua orang tua yang suka mendongeng untuk anak-anaknya.
Bahaya pertama adalah; anak Anda akan menjadi manja setiap menjelang tidur. Dia akan melakukan apa saja asal ibunya mau membacakan buku cerita. Orang tua yang baru datang dalam keadaan lelah, kadang harus mengalahkan seluruh egonya untuk bersedia mendongeng.

Ketakutan kedua adalah, Anak yang gemar dibacakan buku ini akan memilih sendiri buku bacaannya dan biasanya yang dipilih adalah yang paling tebal. Semakin tebal bukunya semakin “meniran” ibunya. Terkadang jika orang tua lelah, yang ngantuk duluan adalah ibunya. Itulah sebabnya tarapi membacakan dongeng untuk anak ini hampir pasti mengobati insomnia pada orang dewasa. (pengalaman pribadi)

Selanjutnya, sebaiknya pilih buku-buku anak yang cocok dengan usianya. Sesuaikan juga dengan kemampuan pendongeng. Bagaimanapun, buku adalah alat anak belajar logika berbahasa. Jadi jika pencerita tidak memahami secara tepat, maka si anak akan menerimanya dengan salah pula. Misalnya jika kita bercerita tentang surga dan neraka, sementara mereka belum memahami tentang konsep konsekuensi. Bukannya memahami, mereka akan terus menerus bertanya tentang kedua konsep tersebut, sampai kita kehabisan kata. Bahaya kan?

Lebih apes lagi, kalau si ibu sudah siap sedia dengan senjata canggih. Buku yang ada pen-nya dan bisa membaca sendiri. Buku ini pada awalnya adalah senjata pamungkas supaya orang tua punya “me time” untuk mengurusi dirinya sendiri. Dengan Pen, diharapkan si kecil berkutat saja dengan buku itu, dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh robot.

Tetapi ingatlah dear para orang tua, anak adalah manusia kecil. Ia butuh bertanya untuk menyesuaikan logika berpikirnya. Jika ia merasa ada yang janggal atau tidak dimengerti, pada siapa ia akan bertanya? Pada Pen Robot?
Selain kecanduan suara ibu/bapaknya, ia juga kecanduan intonasi, mimik, pelafalan dan pengucapan orang tua/pencerita.

Menurut Anda, seberapa sering seumur hidupnya anak akan mendengarkan lelucon dari orang tua? Seberapa sering orang tua akan memberikan perhatian khusus terhadap pertanyaan-pertanyaan si kecil pada saat mendengarkan dongeng? Ini bahaya selanjutnya, karena jika si kecil menyukai mimik dan intonasi itu, ia akan memintanya berulangkali sampai menurut kita itu tidak lagi lucu. Adanya capek.. hikss…

Sebagai penutup, saya berharap para emak dan bapak yang ingin membiasakan dongeng sebelum tidur, berfikir ulang. Bagaimanapun, meski bercerita membawa dampak baik pada anak. Belum tentu berdampak positif pada kesehatan jiwa orang tua.

Satu Balasan untuk “Bahaya Membacakan Dongeng Sebelum Tidur untuk Anak-Anak Anda”

  1. Iniii!! Yg kurasain skr :D. Ssmpe kdg2 , aku saking udh apalnya isi itu buku, jd ngarang bebas sendiri yg jdnya melenceng kemana2. Kalo si kecil nanya, “mamiii, kenapa ceritanya beda ama kemarin? “. aku cuma jwb, ‘iya, hr ini si buaya pgn refeshing. Dia bosen ketemu kancil mulu” hihihi

    Dan nth kenapa yaa, ini anak2 ga prnh mau mintain papinya yg cerita.. Pdhl suaraku ga merdu2 amat kalo udh nyap2 gitu 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *