Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?

 

Sebagai orang tua “kekinian” saya tergolong orang tua yang membiarkan anak tercemar gawai sejak kecil. Pada usia 12 bulan sampai 24 bulan, saya membiarkan si kecil terpapar gadget sekitar 5-6 jam sehari. Untungnya ia tidak menjadi terlambat bicara akibat kurangnya stimulasi. Pada saat ia mulai bicara, saya menyadari bahwa kemampuan motorik halusnya begitu lemah. Saya lalu hanya bisa menyesal, saya melewatkan masa-masa dimana ia harusnya bergelut dengan benda yang menstimulasi motorik halus, seperti bermain pasir, memungut benda-benda kecil, kadang-kadang menghamburkan beras.

Pada waktu seharusnya bermain pasir dan berjalan diatas rumut, kerikil, dan mengenal berbagai jenis tekstur,  tangannya malah asyik menyentuh permukaan gawai yang lembut dan licin. Pada usia 36 bulan atau 3 tahun, saya menyadari bahwa pengaruh yang diakibatkan gawai itu bukan sekedar mengurangi kemampuan motorik halusnya. Anak saya tetiba berubah menjadi monster ketika ia tidak dapat menyentuh  gawai, atau pada saat gawai itu habis baterai. Ia seperti kecanduan layar handpone. Karena frustasi, saya dan suami terpaksa menyembunyikan dan menyampaikan bahwa benda itu rusak tidak dapat dipakai lagi.

mobile-phone-samsung-music-39592

Usia 4 tahun, ia mulai menanyakan pada kami, mengapa anak lain boleh bermain gawai tetapi ia tidak. Lanjutkan membaca “Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?”

Krupuk Upil dan Takdirnya

IMG20160807121332

 

Sebagian orang menamai kerupuk ini kerupuk Upil. Padahal bentuknya jauh lebih besar dari pada “upil” kerupuk ini digoreng bukan dengan minyak, melainkan pasir. Snack ringan ini warnanya bermacam-macam, meski begitu rasanya mirip-mirip.  Manis dan pedas adalah yang paling populer diantara rasa kerupuk Upil lainnya.  Bagi penggemar kerupuk, rasa ini amat “nagih”. Apalagi Lanjutkan membaca “Krupuk Upil dan Takdirnya”