Pilih Mana, Mantan Koruptor yang boleh jadi Caleg, Atau Mantan Pacar jadi Caleg?

 

 

Semua orang berhak donk menggunakan hak-hak politiknya, ikut memilih dalam pemilu, ikut protes kenaikan harga BBM,  Komentar pedas pada melonjaknya harga cabe, semua boleeh. Politik memang bukan sekedar Pemilu dan Bikin Undang-undang. Harga beras Saschetan, terasi, dan harga baby buncis juga adalah produk dari kerja-kerja politik pemerintah. Termasuk syarat menjadi Caleg.

Dalam konvenan internasional hak sipil dan politik (ICCPR) yang diratifikasi sekitar tahun 2005 oleh Indonesia, disebutkan bahwa setiap Individu memiliki hak untuk ikut dalam kegiatan politik praktis. Termasuk mencalonkan diri dalam jabatan publik di sebuah negara. Nah sekarang yang diributkan adalah kriteria untuk menjadi calon anggota legislatifnya.

KPU sebagai penyelenggara pemilu, berkepentingan untuk menetapkan persyaratan menjadi caleg se normatif mungkin, sebagus bagusnya supaya siapa saja yang daftar adalah orang-orang pilihan yang pasti akan membawa kemanfaatan terhadap umatnya. Sayangnya semua harapan itu tergantung pada yang tanda tangan, karena semua Peraturan KPU harus mendapatkan persetujuan DPR, dan audiensi dengan Menkumham, karena itu beberapa syarat dalam proses pencalegan mendapatkan diskon. Salah satunya adalah ketentuan mantan terpidana koruptor untuk menjadi Bacaleg (Bakal Calon Anggota Legislatif) fiuh udah bakal, calon lagi.

Cita-cita dari lubuk hati yang paling dalam seorang caleg adalah menyejahterakan konstituennya. Walaupun mungkin tidak bisa semua, paling tidak yang ada di daerah pemilihannya saja lah. Cita cita semua caleg adalah mulia, saking mulianya, beberapa kalangan menganggap bahwa mantan terpidana korupsi masih berhak dapat kesempatan kedua dan maju sebagai bakal calon legislatif, serta berhak mendapatkan perlakuan yang sama dalam menggunakan hak-hak politiknya.

Mungkin, kita harus berprasangka baik kepada kondisi ini. Mantan terpidana korupsi bisa dianalogikan dengan mantan pacar. Sama sama pernah terpenjara, satu terpenjara status lainnya terpenjara cinta. Dan keduanya sama sama berhak dapat kesempatan kedua.. cieeeh. Persamaan yang lain diantara keduanya adalah sama-sama suka berjanji. Semuanya maniss, yang satu berjanji memperjuangkan beras murah, BBM turun, dan Jalan mulus ngga pake lobang. Mantan Pacar berjanji akan berjuang mati-matian menyelamatkan bahtera cinta yang kadang banyak oleng  dari pada berlayarnya.

Kita tidak bisa menutup mata akan kenyataan ini, janji manis adalah senjata yang sama sama digunakan oleh mantan terpidana yang nyaleg, dan mantan pacar yang kadang-kadang muncul dalam ingatan. KPU memang tidak berdaya menghadang penolakan terhadap aturan yang membolehkan Mantan terpidana koruptor menjadi caleg, tapi konstituennya yang harus menyadari, bahwa kesempatan memilih caleg bagus juga jarang ada. Sama seperti kesempatan ditembak cowok idaman yang menjadi momen langka, bahkan mungkin sekali seumur hidup. #syedihhh

Gagal mendapatkan cinta, dan gagal mendapatkan kursi sama sama memiliki resiko yang berat, cenderung fatal. Beberapa caleg yang gagal berakhir di rumah sakit jiwa dan rumah duka. Begitu pula mereka yang gagal mencari dan mendapatkan cinta. Cinta ditolak dukun bertindak. Nyaleg ditolak, massa bertindak.

Modal mencari cinta, sama banyaknya dengan modal menjadi Caleg. Mungkin lebih berat modal menjadi Caleg. Kalau cari pasangan, kita cukup meyakinkan satu orang saja, mentok mentok meyakinkan Emak, Bapak, Om, Tante, Oma dan Opa (ehh banyak juga ya?). Menjadi Caleg modalnya bisa jadi lebih besar, karena yang diyakinkan biasanya Pak Lurah dan penduduk se kelurahan, Pak Camat dan Penduduk se-Kecamatan. Paling gampang lagi meyakinkan pak Kyai dan santri sak Pondok-pondoknya. Tapi kalau caleg mantan terpidana korupsi, yakiin masih dapet dukungan se-kelurahan??

Bagimanapun menurut mamah dedeh, semua itu tergantung niat baik nya, innamal A’malu bi nniyat. Kalau niatnya baik, Insya Allah jadinya baik, kalau niat nya buruk, selama masih niat saja, belum melakukan ya belum dihitung dosa. Enak benerr.

Berat memang kalau disuruh pilih, coblos mana, caleg yang mantan koruptor dan mantan pacar yang jadi caleg. Caleg yang mantan koruptor pasti tidak jadi jaminan masa depan yang lebih baik, bisa jadi nanti kalau misalnya jadi anggota dewan dia Korupsi lagi. Tapi Mantan Pacar yang jadi caleg sebenarnya berat juga… kenapaa dulu minta putus. Kalau ntar dia jadi anggota dewan kan, hilang kesempatan beli tas Birkin, dari gaji dia.. astaga.

Sebagai konstituen, sebaiknya kita berdoa saja, semoga waktu coblosan kita mendapatkan hidayah, siapa tau waktu masuk bilik suara, alat coblosnya bergerak sendiri secara gaib, mirip sama dadu papan Jumanji. Bagaimanapun Kita harus membantengi diri kita dari godaan serangan fajar. Karena serangan fajar yang berupa amplop dari caleg mantan terpidana korupsi, jelas lebih berat daripada sekedar mendiamkan sms dari mantan. #ups

 

Anieq Fardah

8 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *