Mengenalkan Arti Resiko dan Bahaya Pada Anak

Jika dibanding dengan saat ini, masa kecil saya teramat bahagia. Pulang sekolah sembunyi sembunyi pergi ke rumah teman. Main pasaran. Kami biasanya mencari pelepah pisang, daun waru, daun singkong atau pelepah daun pepaya, dan apa saja yang bisa kita pakai dari tanaman sekitar untuk dijadikan dagangan. Uangnya biasanya dari daun pisang yang di potong sebesar kartu. Dan kami boleh main pakai pisau beneran (meskipun kami tau itu agak tumpul)

Belum lagi kalau weekend, mainnya agak jauh dua ratus meter dari rumah saya ada gumuk (bukit kecil) biasanya kami main kesana. Sambil pura-pura naik gunung beneran, nyanyi-nyanyi naik-naik gunung seperti di TVRI. Resikonya memang jatuh dan tergelincir. Tapi karena bukitnya tidak tinggi kami tidak kuatir. Yang paling menakutkan adalah dikejar sapi. Kok bisa? Iya karena penduduk yang tinggal di bukit itu memelihara sapi, dan kami anak-anak suka sekali nggodain sapi. Jaman dulu kita mah yang di goda sapi hahaha..

Kalau anak saya main seperti saya dulu masih kecil sekarang, sepertinya saya agak kuatir. Tapi setelah membaca beberapa pertimbangan dari beberapa blog dan pakar psikologi perkembangan anak di Media Sosial, saya merasa mereka ada benarnya.

Membiarkan anak mengenali rasa bahaya dan rasa sakit jatuh itu sama dengan mempersiapkan mereka pada masa depan yang sesungguhnya. Dari kecil mereka belajar jalan, berkali-kali jatuh tapi akhirnya bisa jalan sendiri. Bersepeda roda dua juga begitu, Jatuh sedikit lalu bisa sendiri.

Menurut saya, perlu kita tekankan pada anak adalah perbedaan antara Resiko dan Bahaya. Mana yang boleh tapi ber resiko dan mana yang memang benar-benar bahaya. Para guru bela diri anak, biasanya akan memperingatkan bahwa mengikuti kegiatan ini ber resiko sakit, jatuh dan lebam. Tapi mereka juga akan menjelaskan mana yang benar-benar berbahaya.

Bagaimana dengan orangtua yang memang ingin melindungi anaknya dengan sangat? Biasanya kita menyebutnya over parenting atau over protektif. Kita harus bisa membedakan, antara membiarkan anak bermain api di dalam rumah, dengan memberikan kesempatan mereka bermain api untuk mengetahui bedanya kegunaan api dan bahayanya.

Seperti disebutkan dalam artikel todays parents, anak-anak secara alami ingin melakukan apa yang orang tuanya kerjakan. Jadi mari bekerjasama untuk memberikan pengalaman menyenangkan kepada anak-anak kita tentang betapa menyenangkan nya bermain di luar rumah, bercengkerama dengan kawan-kawan sebaya dan membantu ibu bapak masak di dapur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *