Perasaan Penyelenggara Pemilu Melihat Pelantikan Kabinet

Penyelenggara pemilu itu kalau pas sepi alias ngga ada pemilu atau Pilkada kerjaannya Cuma rutin-rutin aja, scan data formulir C1, membuat laporan, sosialisasi, dan meramaikan RPP (Rumah Pintar Pemilu). Kebalikannya pas lagi ada pemilu selama hampir tiga tahun sebelumnya kami berjibaku di pemutakhiran data pemilih, memastikan ijasah calon anggota DPR yang melamar itu asli. Bagi emak-emak KPU bahkan ada yang terpaksa harus nginap-nginap di kantor gegara aplikasi ngadat atau hang sementara kerjaan besok pagi harus kelar, anak sama suami sementara dipesankan katering atau langganan makanan via ojek online.

Selama tahapan pemilu berlangsung, jadwal tahapan yang sudah tersusun rapi di peraturan tingkat pusat mentah karena improvisasi yang dilakukan oleh peserta pemilu. Peserta pemilu sama sama melakukan pemutakhiran data pemilih dengan metode yang kami tidak bisa mengerti. Sehingga bisa memunculkan 31 juta pemilih siluman, dan 17 juta data ganda. Gegara data tersebut, kami harus melakukan perpanjangan kerja lembur selama berminggu minggu, sampai muncul persatuan para istri yang ikut lembur di kantor untuk memastikan suami bener-bener tidur kantor atau tidur di emperan toko.

Data pemilih yang dibilang fiktif, dan Ganda tadi setelah di cek sebenarnya tidak terjadi seheboh yang dibicarakan di media. Pertama karena setelah di cek pemilih siluman tersebut tidak berubah jadi manusia, alias tetap siluman. Sementara data ganda yang ditemukan, tidak sampai satu persen temuan ke gandaannya. Angka 17 juta adalah data pemilih yang ganda dengan sendirinya membelah diri, digandakan berkali-kali dan diserahkan untuk disisakan satu data yang asli.

Ditambah lagi menjelang pemilu ada proses pindah pilih, yang mengharuskan pemilih yang ingin memilih bukan di kota asal, melainkan kota tempat ia bekerja atau bersekolah pada saat pemilu harus datang ke kantor KPU tujuan untuk mendapatkan form A5 (pindah pilih) di kota-kota besar seperti  Jabodetabek, Surabaya, Malang dan Bandung. Ribuan orang rela antri ber jam-jam untuk mendapatkan form tersebut. berjam-jam itu bukan satu sampai dua jam, kadang ada yang sampai 8 sampai 9 jam.

Selain capek, kami yang melayani sebenarnya lebih terharu, karena kerelaannya meluangkan waktu untuk sekedar mendapatkan hak pilihnya. Suasana di kantor selama masa-masa pembuatan form tersebut begitu tegang dan rasanya kami menghadapi pasukan berani mati untuk mendapatkan hak pilih. Saya pernah kena omel gegara bercanda pada seorang bapak yang yang udah ngantri 5 jam, karena mempertanyakan mengapa beliau rela mengantri dan bersusah payah supaya bisa memilih, serta menyampaikan bahwa memilih tidak wajib, yang wajib itu Sholat, Zakat dan Puasa Ramadan.

Belum lagi kami harus menghadapi budaya Indonesia yang last call. Pemutakhiran data pemilih sudah dimulai setahun sebelum pemilu, sosialisasi sudah kemana-mana, waktu di coklit (didata ke rumah-rumah) kami di gonggongi Anjing, dikira tukang kredit, bahkan tukang meteran gas LPJ. Ketika H-10 Pemilu baru tau datanya tidak muncul, kalau marah seperti kami dimasukkan tong setan dengan motor yang menderu-deru. 

Beberapa yang tidak terdaftar adalah hasil coklit yang memang datanya di hapus karena bertahun-tahun tidak tinggal di alamat tersebut. Misalnya, rumahnya sudah dijual tapi KTP masih tetap, orang kontrakan yang nunut KK induk semang, atau pegawai Alfamart yang sewa tanah, tapi dibikinkan KTP dan punya KK sesuai tempat kerja, kami menyimpulkan mereka ini penduduk dengan KTP “Parkir”. Mereka ini pada hari-hari biasa tidak ada, tidak pernah muncul di lingkungan sekitar, bahkan alamat nya sudah menjadi jalan raya. Tetapi pada saat mendekati pemilu mereka protes karena tidak terdaftar. Untungnya undang-undang melindungi keberadaannya dengan boleh memilih dengan menunjukkan KTP Asli di TPS terdekat dengan Alamatnya.

Begitu luar biasanya perjuangan pemilih dan penyelenggara pemilu untuk mensukseskan pemilu tahun 2019. Sehingga selama kami menunggu pelantikan Capres dan Cawapres  ada rasa harap harap cemas, apakah akan berlangsung dengan lancar atau tidak.

Pelantikan lancar, tinggal menunggu penunjukan Kabinet. Setelah kabinet di lantik, mungkin pemilih yang antri untuk pindah pilih dan memasukkan penyelenggara ke tong setan baru menyadari bahwa pemilu itu ya begitu, dan akan begitu terus sampai kita menyadari, kalau pemilu itu ternyata begitu….

Anieq Fardah

Emak-emak yang kebetulan penyelenggara pemilu ^_^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *