Milenial Muda Ber Investasi? Siapa Takut?

Generasi Z adalah generasi milenial yang memiliki perbedaan pola pikir dan pilihan profesi yang jauh lebih beragam daripada generasi sebelumnya. Beragam pilihan ini artinya beragam kemungkinan sumber pendapatan dan pilihan investasi. Sayangnya keluhan bahwa milenial sekarang kesulitas memiliki rumah, atau tidak memiliki tabungan yang cukup serta sulit memutuskan untuk berinvestasi semakin santer terdengar.

Masih banyak kita temui millenial yang hidupnya begitu bergantung dan terpengaruh oleh media sosial, dan percaya bahwa hidup hanya sekali, manfaatkan waktumu untuk melihat dunia luas, beberapa diantaranya malah Jika diminta untuk memilih antara menabung, berinvestasi atau berlibur, tentu millenial akan memilih berlibur. Alasannya selain karena uangnya belum cukup banyak untuk digunakan untuk berinvestasi atau bahkan tidak mengerti skema Investasi

Generasi Millenial cenderung mengartikan investasi dengan uang banyak, dan lamanya hasil yang didapatkan. Maklum, milenial terbiasa mendapatkan informasi dengan instan. Mereka juga cenderung mengharapkan pendapatan dengan mudah pula. Tidak heran, setiap milenial mendapatkan penawaran investasi dengan skema jangka waktu tertentu mereka akan berpikir berulangkali, bahkan cenderung menghindar.

Sejalan dengan bulan Sumpah Pemuda, Bulan Oktober 2019 ini Aplikasi Ajaib memperkenalkan konsep baru untuk berinvestasi bagi Pemuda. Generasi milenial dan pemuda saat ini harus membuktikan bahwa gejala ketidakmampuan berinvestasi ini adalah salah.

Skema investasi yang dikenal oleh generasi sebelumnya adalah menabung di bank untuk mendapatkan bunga deposito. Tetapi menabung saja rupanya tidak cukup. Jika uang kita hanya berkisar puluhan juta rupiah, bunga yang didapatkan tentu tidak terlalu menguntungkan. Sementara itu, jika dibelikan emas dan perhiasan, resiko hilang dan dicuri begitu besar, sehingga oleh millenial pilihan ini dianggap tidak prosepektif.

Kemudahan yang disediakan oleh platform pasar digital rupanya merubah kebiasaan millenial. Jika hanya dengan klik dan goler goler ponsel pintar, semua transaksi dapat dilakukan, maka millenial harus mengenal model investasi yang bisa dilakukan dengan hanya menjentikkan jari. Aplikasi yang menawarkan kemudahan ini adalah aplikasi Ajaib. Selain menawarkan skema investasi yang bisa dimulai dari nominal Rp. 10.000 rupiah, aplikasi ini juga memberikan informasi tentang apa saja investasi yang layak dilakukan saat ini.

Pilihan pilihan investasi juga tersedia tergantung tujuan besar yang ingin diraih oleh konsumen millenial. Apakah investasi anda bertujuan untuk membeli rumah, atau dana pendidikan, atau bahkan dana pensiun? Ada pula investasi yang memang berfungsi sebagai tabungan yang bisa digunakan dengan jangka waktu tertentu, serta pilihan lain untuk dana darurat yang disimpan dan dapat digunakan kapan saja

Aplikasi ini mendapatkan pengakuan dari kustomer sebagai aplikasi investasi yang begitu mudah. Platform websitenya mendukung keamanan yang maksimal dan dilindungi oleh otoritas jasa keuangan (OJK). Pusat bantuan tersedia dalam fitur chat atau email. Dengan model pendaftaran yang begitu mudah. Tidak ada alasan bagi pemuda millenial melewatkan skema investasi yang begitu menguntungkan ini.

Pilihan 1 year return bervariasi, antara 6% sampai 17,5 % pertahun. Jauh lebih besar daripada menabung di bank konvensional. Ajaib memungkinkan investor untuk memanfaatkan dananya sesuai dengan kemampuan dan kondisi keuangan. Bisa membeli reksadana kapan saja serta menjualnya kembali. Tidak lupa platform yang begitu bebas ini memungkinkan investor untuk memilih resiko dari yang paling tidak ber resiko sampai saham yang memiliki resiko moderat.

Ajaib juga menyediakan ahli yang dapat membantumu memilih model invenstasi atau saham yang paling cocok dengan aktivitasmu sehari-hari. Mengapa begitu? karena berinvestasi tanpa mengetahui ilmu dan analisis kekurangan dan kelebihannya, akan membawa kita kepada kesia-siaan. Ajaib agaknya benar-benar mempertimbangkan portofolio investor yang berbasis pada trend dan informasi terbaru.

Jadi, masih ragu sama Ajaib? ngga lah yaaa ^-^

Memperkenalkan Koperasi Digital yang Dipercaya dan Bermanfaat Untuk Generasi Millenial dan UKM Masa Kini

Bagi Millenial dan Masyarakat yang banyak terpapar informasi dari media online, dan menggunakan platform uang elektronik di ponsel pintar saat ini menyebutkan kata koperasi tentu adalah tidak lumrah.  Bagi sebagian besar masyarakat era ini, Koperasi adalah konsep lawas yang tidak lagi menjadi isu besar dalam pusaran ekonomi Indonesia.

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) Koperasi tahun 1973 Muhammad Hatta menjelaskan tentang bagaimana nama Koperasi seharusnya bekerja. Menurutnya koperasi adalah gerakan Demokrasi dan Sukarela. Sukarela artinya tidak ada anggota yang merasa terpaksa untuk bergabung. Sistem ini pula yang menjadi dasar dalam semangat para anggota koperasi untuk mencintai masyarakat sebagai penerima manfaat terbesar dari Koperasi.

Lima Pilar utama dalam dalam mendirikan koperasi menurut Muhammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia diantaranya: 1) Rasa Solidaritas dan Setia Kawan 2) Individualitas untuk mengangkat harga diri 3) Kepercayaan untuk menolong diri sendiri untuk kepentingan bersama—oto aktivitas 4) Cinta kepada masyarakat dalam artian, percaya pada tujuan untuk kepentingan bersama para anggota koperasi  dan 5) adanya rasa tanggung jawab moral dan material

Seiring berjalannya waktu, Koperasi menjadi Asing dan mengalami degradasi arti dan nilai. Hal ini dikarenakan semakin banyak koperasi yang didirikan oleh individu atau badan hukum yang tidak bertanggung jawab dengan melarikan dana nasabah dan melakukan pembohongan publik dalam proses bagi hasil dan keuntungannya. Dua kemungkinan mengapa penyelewengan terhadap organisasi serupa koperasi ini adalah 1) pengelola yang tidak profesional dan tidak mendirikan usaha koperasi berdasarkan visibilitas bisnis yang tepat 2) Anggota koperasi yang tergiur oleh keuntungan instan, dan tidak memiliki pengetahuan cukup mengenai rekap jejak koperasi dan metode bisnis yang dikembangkannya.

Konsisi tersebut membuat konsep koperasi digital menjadi semakin tidak terjangkau. Untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap koperasi, pemerintah wajib memberikan wacana yang realistis dan mudah dipahami masyarakat di ruang publik. Baik secara sistematis dan terstruktur lewat kelembagaan dari tingkat pusat hingga pedesaan, atau membuka kesempatan bagi badan usaha swasta, atau sektor privat membuka koperasi untuk serikat karyawan, dan bahkan membuka kesempatan bagi masyarakat luas mengembangkan koperasi dengan bantuan lembaga keuangan pemerintah yang memiliki kredibilitas baik dalam pengembangan ekonomi masyarakat.

Tahun 2016 pemerintah mulai memperkenalkan koperasi digital, seperti dilansir oleh kompas.id bahwa “Koperasi Digital Pertama di Indonesia Resmi Berdiri” bersama dengan berita tersebut, pemerintah menyerahkan akta koperasi kepada Koperasi Digital Indonesia Mandiri (KDIM) dari kementrian Koperasi dan UKM sebagai leading sector dalam pembinaan badan hukum koperasi di Indonesia.

Saat ini berdiri sebuah lembaga online berjudul koperasidigital.id. Sesuai dengan konsepnya yang digital, koperasi ini akan bergerak dibidang ekonomi digital yang berfokus pada konsep DNA (Device, Network and Application). Konsep Device artinya koperasi ini akan memunculkan brand smartphone sekaligus aplikasinya sementara di bidang networking, koperasi ini akan meluncurkan satelit untuk kawasan Indonesia yang pengelolaannya dilakukan oleh Aliansi Penyedia Jasa Internet Indonesia ( APJII )

Layanan yang diberikan kepada anggota adalah pengadaan layanan internet dengan cara sekali bayar, dan layanan internet dapat digunakan selamat 17 tahun selanjutnya. Satelit ini dikenal dengan Program B1IG. Koprasi ini akan memiliki satelit sendiri, dan manfaatnya akan dirasakan oleh anggotanya melalui ( Internet Sevice Provider) ISP milik UKM yang notebene adalah Anggota Koperasi Digital.

Berikut diantara keuntungan menjadi bagian dari Koperasi Digital;

  1. Mendapatkan Ponsel Pintar

Bagi Anggota AJI yang mendaftarkan keanggotaan koperasi langsung untuk setahun ke depan dengan membayar uang kontribusi bulanan 1,2 juta. Akan langsung mendapatkan Ponsel Pintar senilai Rp 1.2 juta.  Begitu juga 2 tahun depan senilai Rp 2.4 juta akan mendapatkan Ponsel Pintar yang dipasaran senilai Rp 2.4 juta, juga hal yang sama bila melakukan simpanan 3 tahun dimuka. Ponsel Pintar ini dilengkapi dengan iklan digital yang canggih yang pendapatan iklannya akan dibagikan langsung ke anggota melalui poin.

  • Mendapatkan SHU (Sisa Hasil Usaha)

Anggota koperasi juga akan mendapatkan Sisa Hasil Usaha di akhir tahun. SHU diatas tingkat suku bunga deposito, lebih besar daripada suku bunga perbankan pada saat itu.

  • Terdapat Pendapatan Lain selain SHU

Pendapatan iklan koperasi digital akan dibagikan langsung melalui sistem poin. Dan biasanya poin yang terkumpul akan bisa ditukarkan dengan berbagai produk atau jasa dari pihak ke tiga yang menjadi mitra koperasi seperti pulsa, vocher belanja online dan lain-lain.

  • Simpanan Fleksibel dan Bisa Diambil

Simpanan juga bisa diambil jika sudah memasuki bulan ke 50 dengan memberi informasi sebelumnya.

Jika Anda Tertarik, begini Cara Menjadi Anggota Koperasi Digital :

  1. Cukup melakukan registrasi di www.koperasidigital.id
  2. Lalu melakukan investasi simpanan pokok yaitu Rp 100.000 per bulan. Atau bisa juga dengan membayar langsung untuk 1 tahun ke depan sebesar Rp 1.2 jutaKoperasi Digital Untuk dua tahun ke depan sebesar Rp 2,4 juta atau tiga tahun ke depan sebesar Rp 3,6 juta.

Memutuskan untuk melakukan transaksi online dan bergabung dengan koperasi digital tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi pertimbangan bahwa bekerjasama secara online dengan menyerahkan sebagian dana dengan lembaga yang baru dikenal melalui aplikasi dan berita digital adalah hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Setiap Individu dan atau UKM yang ingin bergabung dalam komunitas dan badan hukum koperasi digital harus memiliki keyakinan akan keamanan dana yang disimpan dan dimanfaatkan oleh koperasi digital tersebut. Pemerintah secara tidak langsung menjamin keamanan dana tersebut dengan adanya lembaga penjamin simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jika Koperasi Digital dijamin oleh LPS dan di amankan oleh OJK, maka tidak ada alasan bagi Individu atau UKM yang memiliki kesamaan visi bergabung dengan koperasi digital ini.

Mengenalkan Arti Resiko dan Bahaya Pada Anak

Jika dibanding dengan saat ini, masa kecil saya teramat bahagia. Pulang sekolah sembunyi sembunyi pergi ke rumah teman. Main pasaran. Kami biasanya mencari pelepah pisang, daun waru, daun singkong atau pelepah daun pepaya, dan apa saja yang bisa kita pakai dari tanaman sekitar untuk dijadikan dagangan. Uangnya biasanya dari daun pisang yang di potong sebesar kartu. Dan kami boleh main pakai pisau beneran (meskipun kami tau itu agak tumpul)

Belum lagi kalau weekend, mainnya agak jauh dua ratus meter dari rumah saya ada gumuk (bukit kecil) biasanya kami main kesana. Sambil pura-pura naik gunung beneran, nyanyi-nyanyi naik-naik gunung seperti di TVRI. Resikonya memang jatuh dan tergelincir. Tapi karena bukitnya tidak tinggi kami tidak kuatir. Yang paling menakutkan adalah dikejar sapi. Kok bisa? Iya karena penduduk yang tinggal di bukit itu memelihara sapi, dan kami anak-anak suka sekali nggodain sapi. Jaman dulu kita mah yang di goda sapi hahaha..

Kalau anak saya main seperti saya dulu masih kecil sekarang, sepertinya saya agak kuatir. Tapi setelah membaca beberapa pertimbangan dari beberapa blog dan pakar psikologi perkembangan anak di Media Sosial, saya merasa mereka ada benarnya.

Membiarkan anak mengenali rasa bahaya dan rasa sakit jatuh itu sama dengan mempersiapkan mereka pada masa depan yang sesungguhnya. Dari kecil mereka belajar jalan, berkali-kali jatuh tapi akhirnya bisa jalan sendiri. Bersepeda roda dua juga begitu, Jatuh sedikit lalu bisa sendiri.

Menurut saya, perlu kita tekankan pada anak adalah perbedaan antara Resiko dan Bahaya. Mana yang boleh tapi ber resiko dan mana yang memang benar-benar bahaya. Para guru bela diri anak, biasanya akan memperingatkan bahwa mengikuti kegiatan ini ber resiko sakit, jatuh dan lebam. Tapi mereka juga akan menjelaskan mana yang benar-benar berbahaya.

Bagaimana dengan orangtua yang memang ingin melindungi anaknya dengan sangat? Biasanya kita menyebutnya over parenting atau over protektif. Kita harus bisa membedakan, antara membiarkan anak bermain api di dalam rumah, dengan memberikan kesempatan mereka bermain api untuk mengetahui bedanya kegunaan api dan bahayanya.

Seperti disebutkan dalam artikel todays parents, anak-anak secara alami ingin melakukan apa yang orang tuanya kerjakan. Jadi mari bekerjasama untuk memberikan pengalaman menyenangkan kepada anak-anak kita tentang betapa menyenangkan nya bermain di luar rumah, bercengkerama dengan kawan-kawan sebaya dan membantu ibu bapak masak di dapur