Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…

Sumber www.digitalmarketer.id

Alkisah pada jaman “now” kehidupan ekonomi kelas menengah sedang booming. Penduduk usia produktif membludak, dan berdasarkan data BPS rata-rata kelas menengah ini sedang mengalami kejayaan finansial. Berkebalikan dengan fakta itu seringkali kita baca di rubrik ekonomi bisnis di berbagai media, terjadi penurunan moda konsumsi. Mall-mall pada tutup, gerai-gerai toserba modern bangkrut, sampai direksinya berani urunan untuk menutup kerugian perusahaan.

Fenomena ini dijawab oleh beberapa pengamat ekonomi dengan menuduh toko-toko online yang iklannya bertebaran di jagad medos kita. Isu mutakhir, ada analisis yang menyebutkan bahwa penurunan konsumsi di mall dan pasar modern karena kelas berduit  sedang berhemat, demi membayar sekolah anak-anak yang uang pangkal dan spp nya bisa dipakai bikin usaha percetakan.

Diluar itu semua, sebenarnya ada dua jenis makhluk lain yang turut berkontribusi atas kemunduran ekonomi ini. Pertama Emak Irit, kedua Pria Promo.  Lanjutkan membaca “Akibat “Emak Irit” dan “Pria Promo” Astaghfirullah…”

Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?

 

Sebagai orang tua “kekinian” saya tergolong orang tua yang membiarkan anak tercemar gawai sejak kecil. Pada usia 12 bulan sampai 24 bulan, saya membiarkan si kecil terpapar gadget sekitar 5-6 jam sehari. Untungnya ia tidak menjadi terlambat bicara akibat kurangnya stimulasi. Pada saat ia mulai bicara, saya menyadari bahwa kemampuan motorik halusnya begitu lemah. Saya lalu hanya bisa menyesal, saya melewatkan masa-masa dimana ia harusnya bergelut dengan benda yang menstimulasi motorik halus, seperti bermain pasir, memungut benda-benda kecil, kadang-kadang menghamburkan beras.

Pada waktu seharusnya bermain pasir dan berjalan diatas rumut, kerikil, dan mengenal berbagai jenis tekstur,  tangannya malah asyik menyentuh permukaan gawai yang lembut dan licin. Pada usia 36 bulan atau 3 tahun, saya menyadari bahwa pengaruh yang diakibatkan gawai itu bukan sekedar mengurangi kemampuan motorik halusnya. Anak saya tetiba berubah menjadi monster ketika ia tidak dapat menyentuh  gawai, atau pada saat gawai itu habis baterai. Ia seperti kecanduan layar handpone. Karena frustasi, saya dan suami terpaksa menyembunyikan dan menyampaikan bahwa benda itu rusak tidak dapat dipakai lagi.

mobile-phone-samsung-music-39592

Usia 4 tahun, ia mulai menanyakan pada kami, mengapa anak lain boleh bermain gawai tetapi ia tidak. Lanjutkan membaca “Tentang Screen Time Si Kecil, Haruskah di Batasi?”

Krupuk Upil dan Takdirnya

IMG20160807121332

 

Sebagian orang menamai kerupuk ini kerupuk Upil. Padahal bentuknya jauh lebih besar dari pada “upil” kerupuk ini digoreng bukan dengan minyak, melainkan pasir. Snack ringan ini warnanya bermacam-macam, meski begitu rasanya mirip-mirip.  Manis dan pedas adalah yang paling populer diantara rasa kerupuk Upil lainnya.  Bagi penggemar kerupuk, rasa ini amat “nagih”. Apalagi Lanjutkan membaca “Krupuk Upil dan Takdirnya”